Sejarah Jurnalis Perang di Afghanistan: Tidak ada Berita yang Positif

0
468

Suara. com – Menjadi peliput konflik bersenjata di tengah peperangan tidak mungkin. Ini yang dirasakan Meena Baktash, editor senior di BBC Afghan Service.

Salah satu cerita tentang serangan bersenjata kepada rumah bersalin di Kabul pasar ini yang menyebabkan kematian bayi, ibu dan perawat.

“Bagi saya, sebagai orang Afghanistan yang telah meliput perang dan tragedi, kejadian ini mengejutkan, ” kata Meena Baktash.

“Kita tidak pernah mati mengecap. ”

Meena Baktash telah meliput perang di Afghanistan selama puluhan tahun. Meskipun puluhan ribu orang terbunuh dalam pertentangan, kejadian pekan ini merupakan kejadian yang sangat menyedihkan. Kebanyakan dengan terbunuh adalah warga sipil.

Sebanyak 24 orang terbunuh, termasuk bayi-bayi yang baru muncul, para ibu dan juga pembela. Kejadian ini dalam serangan bersenjata di rumah sakit bersalin Dasht-e-Barchi di ibu kota Afghanistan, Kelulusan.

Meena Baktash serta timnya di BBC baik dengan berkantor di London maupun Kelulusan memusatkan liputan mereka pada serbuan itu. Rekaman gambar yang menyembul amat menyedihkan.

“Ada foto seorang tentara yang mengingatkan saya pada gambar seorang bocah yang diselamatkan ke tanah, seorang pengungsi, [Alan Kurdi], ” katanya.

“Rekaman yang saya lihat, seorang tentara membopong bayi dan membawanya ke ambulans…

“Tidak mudah untuk membicarakan hal tersebut. ”

Serangan pada Kabul dilancarkan pada Selasa pagi dan warga setempat mengaku mengikuti dua ledakan dan disusul sebutan tembakan.

Seorang sinse yang berhasil melarikan diri selama serangan itu mengatakan kepada BBC bahwa ada sekitar 140 orang yang berada di rumah melempem saat orang-orang bersenjata menyerang.

Pasukan khusus Afghanistan menyelamatkan 100 orang perempuan dan anak-anak, kata para pejabat kepada BBC.

Bertumpahan darah

Tiga orang penyerbu, yang dilaporkan mengenakan seragam petugas, semuanya dibunuh oleh petugas keamanan setelah terjadi baku tembak selama berjam-jam.

“Kita tak tahu apa yang ada pada benak orang-orang yang menyerang panti sakit bersalin dan membunuh sebanyak ibu dan bayi. Saya tidak mengerti, ” ungkap Baktash.

Tak lama setelah serangan di rumah sakit bersalin pada Kabul, muncul berita lain mengenai seorang pengebom yang membunuh setidaknya 32 orang dalam acara pemakaman di kota Nangarhar, di wilayah timur Afghanistan.

Golongan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS mengatakan berada pada balik serangan pemakaman komandan penjaga di Nangarhar yang dihadiri oleh ribuan orang tersebut.

“Remaja, pemuda terbunuh di langgar, ” jelas Baktash.

“Tiba-tiba seluruh negeri bertumpahan darah. Saya tahu ini adalah zaman yang sulit bagi semua karakter, tetapi Selasa itu adalah keadaan yang seram. ”

Awal tahun ini, sebetulnya menyembul secercah harapan di Afghanistan, kala Amerika Serikat dan kelompok keras Taliban meneken perjanjian penarikan gerombolan Amerika.

Tetapi perundingan antara pemerintah Afghanistan serta Taliban gagal karena terganjal secara pembebasan tahanan, dan kekerasan tetap terjadi.

Perdamaian terang jauh dari harapan, bahkan sebelum serangan pada Selasa itu.

“Kita tidak boleh melakukan orang lupa, ” kata Baktash.

“Kita harus mengakui perhatian orang terhadap masalah tersebut. ”

“Masalah penyerbuan terhadap rumah sakit bersalin dan pembunuhan terhadap ibu-ibu dan perawat dan bayi yang baru tumbuh… itu terlalu menyedihkan.

“Ketika kita berbicara dengan warga di Kabul, mereka berputus sangka. Tidak ada akhirnya. ”

Taliban menyatakan tidak terlibat dalam serangan di rumah lara Dasht-e-Barchi, tetapi Presiden Ashraf Ghani mengatakan kelompok militan itu melengah-lengahkan seruan agar menghentikan kekerasan dan memerintahkan serangan terhadap mereka.

Pandemi virus corona menambah persoalan dan kekhawatiran dengan dialami oleh warga Afghanistan di dalam situasi yang sudah sulit.

Bahkan sebelum terjadi pandemi, banyak orang kesulitan mencari order.

“Afghanistan adalah lengah satu negara yang paling sensitif di dunia, ” jelas Baktash.

“Mengenai kemiskinan… kita tidak punya data statistiknya. ”

Selain serangan kepada rumah sakit bersalin dan pemakaman, di hari yang sama serupa terjadi serangan udara oleh gerombolan Amerika Serikat di Provinsi Balkh, lapor media setempat. Sedikitnya 10 orang terbunuh dan banyak lainnya luka.

“Berita dibanding media lokal (pada Selasa) kaya siksaan. Berita dimulai dari serangan rumah sakit, disusul dengan serbuan bunuh diri di wilayah timur, ” jelas Baktash.

“Lalu muncul berita tentang pukulan udara di wilayah utara. ”

“Ini tidak hanya satu berita. Ketika meliput Afghanistan, tidak ada berita dengan positif.

“Kita ingin menutup telinga dan mata & menjauh dari berita.

“Tetapi wartawan tidak dapat melayani itu. Kita harus melaporkan barang apa yang terjadi. ”