Maka Agustus 2020 APBN Jebol Rp 500, 5 Triliun

0
94

Suara. com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, defisit Anggaran Pendapatan serta Belanja Negara (APBN) hingga Agustus 2020 telah mencapai Rp 500, 5 triliun.

Kejadian tersebut dikatakan Sri Mulyani era konfrensi pers APBN Kita meniti video teleconference di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

“Posisi Agustus, kita dalam posisi defisit mencapai Rp 500, 5 triliun, atau 3, 05 persen kepada PDB (Produk Domestik Bruto), ” kata Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini pun menyebut angka defisit ini merupakan yang sangat gede jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 197, 9 triliun.

“Situasi ini harus kita jaga biar kondisi dari SBN yield kita mengalami penurunan, namun kita pasti harus berhati-hati, ” katanya.

Angka defisit tersebut didapat dari belanja negara sebesar Rp 1. 534, 7 triliun, tengah pendapatan hanya mencapai sebesar Rp 1. 034, 1 triliun.

Pemerintah menilai perekonomian sedang berat untuk bergerak dari pagebluk virus corona atau Covid-19. Alhasil, proyeksi pertumbuhan diturunkan kembali ke rentang -1, 7 persen tenggat -0, 6 persen sepanjang tahun ini.

Sri Mulyani mengatakan setidaknya ada 3 faktor pemberat yang membuat gerak ekonomi tak leluasa akibat pandemi Covid-19.

“Kontribusi minus terbesar (adalah) investasi, konsumsi serta ekspor, ” kata Sri Mulyani.

Real pada Agustus bulan lalu negeri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang tarikh ini berada di rentang -1, 1 persen hingga positif pada angka 0, 2 persen.

Penurunan outlook pertumbuhan ekonomi tahun ini antara lain dikarenakan oleh kasus penambahan pasien Covid-19 yang terus meningkat tajam.

“Ini artinya negatif territory akan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih mau berlangsung untuk kuartal IV, dengan kita upayakan bisa mendekati hampa atau positif, ” jelas dia.

Ramalan ini juga sejalan dengan proyeksi berbagai institusi ekonomi dunia yang menyebut ekonomi Indonesia tahun ini bakal lahir negatif.

“Kalau kita lihat institusi yang lakukan forecast ke pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi mereka rata-rata memproyeksikan ekonomi Nusantara di 2020 semua di zona negatif, kecuali World Bank yang 0 persen, ” katanya.