Ustaz Abdul Somad Bereaksi Presiden Prancis Menghina Islam

0
79

Ustad Abdul Somad menyampaikan tausiyah di Kampus Unhas, Jumat 2 Oktober 2020 / Foto: DKSR Unhas

Diumumkan dalam Instagram @ustadzabdulsomad_official.

SuaraBanten. id – Ulama ternama Ustaz Abdul Somad bereaksi Pemimpin Prancis Emmanuel Macron yang menghina Islam. Ustaz Abdul Somad mencanangkan pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayib dalam akun Instagramnya, @ustadzabdulsomad_official.

Dalam postingan Ustaz Abdul Somad yang berjudul “Al Azhar Tegas Tolak Persetujuan Pransis”, dia mengumumkan jika Pemimpin Besar Al Azhar itu menegah bantuan Dubes Prancis.

Berikut isinya:

Dubes Perancis memohon kepada Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayib agar membantunya untuk menghentikan gelombang boikot produk-produk Prancis. Namun beliau menentang dan menjawab, “Kami tidak menerima negoisasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Macron harus segera meminta maaf. ”

Kata Syaikh Ali Jumah, “Orang yang menggambar dan menistakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang dungu anaknya karakter dungu dan orang tuanya telah gagal mendidiknya. ”

Presiden Emmanuel Macron mengumumkan rencana untuk membela nilai-nilai sekuler Prancis dan menyebut agama Islam dalam krisis yang memicu perbincangan.

Ulama kondang Ustaz Abdul Somad bereaksi Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan menghina Islam.

Menyadur Al Jazeera, Presiden Macron menyampaikan gagasan tersebut dalam pidatonya pada hari Jumat (2/10) dengan menegaskan tidak ada konsesi yang akan dibuat dalam upaya anyar untuk mendorong agama keluar daripada pendidikan dan sektor publik di Prancis.

“Islam adalah agama yang cukup mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kami tidak hanya melihat ini di negara kami, ” katanya.

Dia mengumumkan bahwa pemerintah akan mengajukan RUU pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang 1905 yang dengan resmi memisahkan gereja dan negeri di Prancis.

Langkah-langkah tersebut, kata Macron, ditujukan untuk mengatasi masalah tumbuhnya radikalisasi di Prancis dan memajukan kemampuan untuk hidup bersama.