Tumenggung Sleman Minta Pendatang dan Pemudik Didata, Dukuh Wajib Memantau

0
33

SuaraJogja. id – Meski telah diminta untuk mengurangi risiko penyaluran COVID-19, nyatanya banyak perantau dalam zona merah corona yang langgeng memilih untuk pulang kampung alis mudik. Bupati Sleman Sri Purnomo pun memerintahkan para pimpinan set daerah lingkup Pemkab Sleman untuk mendata para pendatang dan pemudik di Kabupaten Sleman.

Sri Purnomo membagikan rincian suruhan untuk mencatat siapa pun dengan datang ke Sleman sesuai surat edaran di media sosial. Dalam keterangan tertulis disebutkan, upaya ini dilakukan untuk meminimalisasi potensi risiko penularan infeksi COVID-19, khusunya di Sleman.

“Kita perlu memahami kondisi masyarakat. Oleh karna itu saya berharap tersedia pemantauan yang dilakukan oleh set RT/RW hingga kecamatan. Memohon pada masyarakat untuk peran serta rajin melaporkan jika lingkungan sekitar ada kerabat atau tamu yang pegari dari daerah lain. Demi kebaikan bersama, ” cuit @SriPurnomoSP, Selasa (31/3/2020).

Cuitan Bupati Sleman Sri Purnomo – (Twitter/@SriPurnomoSP)

Berdasarkan imbauan Sri Purnomo, setiap dukuh bersama kepala RW dan RT harus memantau supaya pendatang maupun pemudik di kampungnya melakukan karantina mandiri selama 14 hari begitu sampai pada rumah. Jika merasakan gejala ISPA, seperti demam, flu, batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas, ataupun gejala lainnya, yang bersangkutan wajib segera periksa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya.

Tak hanya itu, dukuh bergandengan ketua RW dan RT selalu ditugaskan untuk mencatat data pengembara maupun pemudik di kampungnya, dengan mencakup nama dan nomor hp, NIK, alamat asal dan petunjuk kedatangan, tanggal tiba di Sleman, nama dan alamat tujuan ataupun kepulangan, serta rencana lama susunan di Sleman.

Sementara itu, tugas kepala desa lantaran Sri Purnomo adalah sosialisasi di dalam dukuh, ketua RW, ketua RT, dan masyarakat tentang pelaksanaan tulisan edaran darinya serta segera meluluskan tahu kepala UPT puskesmas jika ada warga yang memerlukan penanganan berdasarkan laporan dukuh atau pemimpin RT dengan tembusan camat.

Terakhir, untuk camat, Sri Purnomo menugaskan koordinasi dengan Lembaga Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam), kepala UPT puskesmas, dan kepala kampung soal pelaksanaan surat edaran. Camat juga diminta melaporkan data pendatang dan pemudik pasa Bupati Sleman dengan temusan Kepala Dinas Kesehatan tubuh (Dinkes) Kabupaten Sleman.

Sebelumnya, kala banyak karakter mewanti-wanti perantau untuk menahan muncul supaya tidak pulang kampung demi menekan angka penularan COVID-19, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tak melarang pemudik buat pulang. Menurutnya, yang paling istimewa adalah mereka bisa dikontrol dan mampu mendisiplinkan diri agar tak menebar virus ke orang pada sekitarnya.

“Biarin aja [pemudik], pulang yang istimewa bisa dikontrol dan bisa mendisiplinkan diri untuk tidak menularkan masa positif. Apalagi di Jogja tidak ada virus corona lokal. Yang ada orang Jogja pergi muncul dan pulang lalu bawa virus. Atau mayoritas ODP itu perantau, ” terangnya.