Diprediksi Saingi Cemerlangnya Bulan, Komet Denah Mungkin Sudah Hancur

0
392

Suara. com – Sejak akhir 2019 lalu para-para astronom sudah terkesima dengan komet Atlas, yang disebut-sebut akan melaju di langit dengan kecemerlangan setimpal dengan planet Venus dan bahkan Bulan. Sayang, laporan terakhir membuktikan bahwa komet itu mungkin sudah hancur.

Atlas atau C/2019 Y4 adalah sebuah komet yang pertama kali terdeteksi oleh teleskop Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System (ATLAS) yang berlokasi pada Hawaii pada 28 Desember 2019.

ATLAS sendiri merupakan teleskop khusus yang dirancang untuk mendeteksi asteroid atau objek antariksa lainnya yang berpotensi menabrak Dunia dalam waktu sangat dekat (dua pekan sampai dua hari sebelum objek menghantam Bumi).

Saat pertama kali ditemukan, Atlas terlihat sangat redup. Tetapi seiring waktu, sinarnya semakin cemerlang. Apalagi dari Desember 2019 sampai 17 Maret lalu, cahayanya bertambah 27. 500 kali.

Akhirnya para astronom memperkirakan bahwa Komet Atlas akan bersinar dengan sensasional di langit. Diperkirakan bahwa di 31 Mei nanti, ketika mencapai titik terdekatnya dengan Matahari, cahaya komet Atlas akan seterang Venus bahkan Bulan.

Namun beberapa waktu belakangan para astronom kecewa karena komet Atlas selalu semakin redup alih-alih makin terang. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa komet itu sudah pecah atau tenggelam.

“Kami melaporkan kalau ada kemungkinan komet C/2019 Y4 (Atlas) sudah pecah, ” tulis Quanzhi Ye, astronom dari Universitas Maryland, AS dan Qicheng Zhang, astronom dari California Institute of Technology.

Pada pengamatan mereka, nukleus komet itu sudah pecah dan itu terlihat dari hasil foto teleskop dengan menunjukkan pola memanjang pada pokok komet.

Para sarjana kemudian mengingatkan bahwa komet adalah objek yang terkenal unik serta tak bisa diprediksi. Ketika mereka mendekati Matahari, panas dan radiasi bisa merusak permukaan komet yang biasanya dilapisi es sehingga dia kehilangan sinarnya.

Komet sendiri sering disebut bintang berekor karena saat panas dan radiasi Matahari menerpa, lapisan es pada permukannya mencair & melepaskan partikel debu. Partikel-partikel duli itulah yang terlihat seperti akhir dari Bumi. [Space.com/Cnet]