Anarko Dituduh Rancang Penjarahan, Sosiologi UGM: Tidak Ada Sejarahnya Itu

0
28

Suara. com – Anarko Sindikalis Diduga Rencanakan Penjarahan Saat Pendemi Covid-19, Sosiologi UGM: Tidak Ada Sejarahnya Seperti Itu

Kapolda Metro Hebat Irjen Nanan Sudjana menyebut gabungan Anarko Sindikalis merancang aksi vandalisme di tengah pandemi Covid-19 buat menciptakan keresahan dengan tujuan mengusik masyarakat hingga melakukan penjarahan di sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Hal tersebut menyusul ditangkapnya pelaku vandalisme bertuliskan pesan ‘Sudah Krisis Saatnya Membakar’ dengan disebut polisi dilakukan kelompok Anarko Sindikalis di Tangerang Kota.

Merespons hal tersebut, Pengajar Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta AB Widyanta meragukan tudingan tersebut. Abe mengungkapkan, berpatokan sejarah yang diketahuinya, kelompok Anarko Sindikalis tidak pernah bertindak sama dengan itu.

“Tidak pernah ada sejarahnya seperti itu, ” kata Abe saat dihubungi Bahana. com, Minggu (12/4/2020).

Menurut Abe, sapaan AB Widyanta, dalam perkara ini perlu kehati-hatian dalam menangkap informasi. Terlebih, adanya informasi yang asimetris.

Pertanyaan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana yang membicarakan pelaku vandalisme yang ditangkap dalam Tanggerang Kota disebut sebagai arah dari kelompok Anarko Sindikalis perlu diklarifikasi. Termasuk, kepada aktivis Anarko Sindikalis.

Abe lantas menejelaskan, aktivis Anarko Sindikalis itu sendiri pada dasarnya terbagi dalam beberapa aliran. Namun, pada dasarnya kata Abe, aktivis Anarko Sindikalis merupakan kelompok yang pro terhadap kehidupan, ekologi lingkungan had ketenangan.

“Tetapi target saya seperti ini, kita sadari Anarko ini fragmented, ada banyak aliran lah. Tetapi basically nyata pro-life, pro-kehidupan, pro terhadap ekologi lingkungan, pro terhadap peaceful hal-hal yang berkaitan nonviolence, ” ujar Abe.

“Memang bahwa kritik atas dengan jalan apa struktur yang kemudian kapitalistik itu memang yang menjadi titik pertimbangan mereka, ” katanya.

Oleh karena itu, pernyataan negara kepolisian yang menyebut pelaku vandalisme di Tanggerang Kota merupakan bagian dari kelompok Anarko Sindikalis perlu dibuktikan. Jangan sampai justru terkesan tudingan yang prematur lantaran kejadian tersebut sejatinya baru saja diungkap.

“Tentu afiliasi tersebut yang menjadi ditanya balik merupakan soal polisi punya datanya nggak? Kalau punya data, dan itu kan dalam proses baru ditangkap, baru kemudian mau disidik, diintrogasi dan sebagainya, kenapa sudah dipublikasikan?, ” tanya Abe.

“Artinya itu kan kode pandangan hidup, mestinya polisi ada kode pandangan hidup. Ini etika publik, mestinya petugas punya etika publik. ”

Sebelumnya, Abe menilai sepantasnya aparat kepolisian lebih berhati-hati di menyampaikan informasi terkait dugaan adanya kelompok Anarko Sindikalis yang hendak merencanakan penjarahan di tengah pandemi Covid-19.

Terlebih, kekinian dalam situasi pandemi Covid-19 pernyataan polisi yang dinilai dini dengan menuding kelompok Anarko Sindikalis hendak merencanakan aksi penjarahan justru dinilai dapat menambah kecemasan dalam tengah masyarakat.

“Etika publik dari aparatur sipil negeri dalam hal ini adalah aparat keamanan yang punya hak privilese untuk melakukan proses itu dipersilakan, kalau iya (benar). Tetapi, tanpa kemudian menyebar informasi yang nyata masih proses penyidikan gitu. Itu artinya ini prematur, ” kata Abe.

Menurut Abe, dalam perkara ini Polisi sepatutnya terlebih dahulu melakukan penyelidikan dan penyidikan yang mendalam termasuk mengklarifikasi atau menggali informasi daripada kaum Anarko Sindikalis. Sebelum, kata Abe, melontarkan pernyataan bawah pelaku yang diduga kelompok Anarko Sindikalis tersebut hendak merencanakan penjarahan di sebesar wilayah di Pulau Jawa.

Sekalipun benar, lanjut Abe, alangkah baiknya aparat kepolisian tak menyampaikan informasi tersebut kepada umum secara gamblang dengan mempertimbangkan kedudukan di tengah kecemasan masyarakat terhadap pandemi Covid-19.

“Maksudnya kalaupun toh iya, tetapi dilihat loh ini konteksnya itu pada kondisi warga tercekam oleh sebab isolasi mandiri berkaitan dengan Covid. Orang dengan psikologis yang sudah berat begitu, dibebani lagi dengan ketakutan tentang penjarahan dari grup ini (Anarko Sindikalis). Jumlahnya berapa, punya data nggak kepolisian? Patuh saya ini berlebihan, ” perkataan Abe.

“Seberapa mulia kekuatan mereka sehingga sampai se-Pulau Jawa, make sense tidak? Tersebut maksudnya common sense, orang umum saja masih bisa berpikir. Itu nggak pernah kelihatan bentuknya (Anarko Sindikalis) seperti apa, bagaimana selama ini, tidak ada informasi mengenai itu tiba-tiba mau menjarah, tersebut seperti apa sih, ” sambungnya.