Peneliti: Lockdown Eropa Dapat Mencegah Beribu-ribu Kematian Akibat Polusi Udara

0
349

Suara. com – Beberapa negara di Eropa mengambil kebijakan lockdown untuk menanggulangi penyebaran virus corona. Kebijakan tersebut dipercaya dapat menghambat penyebaran virus corona.

Akibat lockdown , mobilitas bangsa jadi sangat terbatas. Hal itu juga berpengaruh pada kondisi udara yang semakin menjadi lebih gres.

Dilansir dari Al Jazeera, kebijakan lockdown ini dapat meningkatkan status udara menjadi lebih baik serta setara mencegah kematian akibat pengotoran udara hingga 11. 300.

Menurut para peneliti dalam Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) yang berbasis di Helsinki, polusi udara di Eropa juga turun secara dramatis karena ratusan juta orang telah tinggal di rumah selama sebulan terakhir.

“Anda dapat membandingkannya dengan semua orang di Eropa yang berhenti merokok selama sebulan, ” kata Lauri Myllyvirta, besar analis di Pusat Penelitian Gaya dan Udara Bersih (CREA).

“Analisis kami menyoroti kebaikan luar biasa bagi kesehatan kelompok dan kualitas hidup yang bisa dicapai dengan mengurangi bahan menjilat fosil dengan cara cepat & berkelanjutan. ” jelasnya.

Manfaat lockdown di Jerman, Inggris, dan Italia setara dengan menghalangi kematian dini lebih dari satu. 500 di setiap negara.

Rata-rata warga negara Eropa terpapar dengan tingkat nitrogen dioksida 37 persen di kolong apa yang biasanya diharapkan di 30 hari yang berakhir di dalam 24 April, kata CREA.

Paparan terhadap partikel, dengan dihasilkan oleh transportasi, industri, dan pemanasan berbahan bakar batu panas, 12 persen di bawah tingkat normal, menurut penelitian mencakup 21 negara di Eropa.

Menurut CREA, jika kondisi penurunan polusi ini terus-menerus dengan skala saat ini, dapat mencegah 1, 3 juta keadaan lebih sedikit absen dari order dan kurang dari 6. 000 kasus asma pada anak-anak.

Pada saat yang sesuai, para peneliti mencatat bahwa paparan udara kotor yang berkepanjangan pra pandemi dapat menyebabkan atau memperburuk diabetes, penyakit paru-paru, penyakit dalaman dan kanker. Penyakit tersebut yang kemudian dapat meningkatkan risiko maut pada pasien COVID-19.