Kasus M Nuh, Pemenang Lelang Mesin Jokowi, Ray: Itu Kesembronoan Panitia

0
132

Suara. com kacau Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti memperhitungkan kasus Muhammad Nuh yang memimpin lelang motor Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang sempat ditangkap dan dilepaskan pihak kepolisian, merupakan kesembronoan penyelanggara konser amal.

Pihak penyelenggara acara konser amal dan lelang motor Jokowi dengan dimaksud yakni BPIP dan MPR dan BNPB.

“Saya sebut itu kesembronoan panitia. Mereka nggak melakukan verifikasi, tidak mengabulkan pendaftaran, tidak ada jaminan, tersebut kesembronoan, ” ujar Ray era dihubungi Suara. com, Jumat (22/5/2020).

Nuh menjadi pemenang lelang motor listrik milik Presiden Jokowi senilai Rp 2, 5 miliar dalam konser amal yang digelar MPR bersama BPIP serta BNPB.

Nuh diketahui belum melakukan pembayaran dan dianggap melakukan penipuan. Sehari-hari ia serupa bekerja sebagai buruh harian.

Ray menuturkan permasalahannya bukanlah penangkapan M Nuh yang tak bisa membayar lelang. Melainkan tanggungan panitia yang sembrono dalam mendirikan acara lelang motor Jokowi.

Kesembronoan yang dimaksud yakni tidak melakukan verifikasi kepada pengikut yang akan melakukan lelang.

“Kan mestinya tersedia verifikasi. Orang itu kan suka lelang harus daftar, harus dipandang dulu di cek dulu. Jadi lelang terbuka itu harus dilakukan verifikasi detail, akhirnya terjadi (lelang), ” ucap dia.

Raya mengatakan penangkapan M Nuh seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Pokok, kepolisian memiliki dasar dalam menyelenggarakan penangkapan terhadap M Nuh karena gagal bayar dalam proses lelang.

“Jadi kalau penahanan, menurut saya ada dasar polisi bukan semborono, tidak karena (motor) Presiden dia ditangkap. Dia (M Nuh) melakukan bisnisnya nggak sesuai. Barangnya sudah laku dia nggak bayar. Kepada siapapun dia melakukan itu nggak dapat, ” tutur Ray.