Kunjungi Pesantren di Sukabumi, Maruf Mengabulkan Ingatkan Protokol Kesehatan

0
96

SuaraJabar. id semrawut Wakil Presiden Maruf Amin sempat meninjau Pesantren Assobariyyah dalam kunjungan kerjanya di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/7/2020). Dalam kesempatan itu, Maruf menegaskan kalau kegiatan belajar-mengajar dengan tatap muka langsung harus mempertimbangkan kriteria utama yakni kesehatan.

Maruf Amin mengatakan kegiatan bersekolah mengajar secara tatap muka langsung itu hanya bisa dilakukan dalam sekolah yang masuk ke di dalam zona hijau COVID-19. Sebagaimana diketahui, Pesantren Assobariyyah akan kembali menyelenggarakan kegiatan belajar mengajarnya karena menyelundup ke dalam zona hijau.

Wakil Presiden RI Maruf Amin mengunjungi Pesantren Assobariyyah dalam kunjungan kerja ke Jawa Barat [Dokumentasi KIP-Setwapres].

“Hanya daerah yang masuk zona hijau yang dapat memulai kegiatan persekolahan secara tatap muka. Selain itu, pelaksanaan aturan tatanan normal baru akan tetap dievaluasi untuk masing-masing daerah, ” kata Maruf saat menyampaikan sambutannya.

Ketua Majelis Ustazah Indonesia (MUI) non-aktif tersebut mengucapkan tahap pertama yang harus dilakukan sebelum membuka sekolah ialah melaksanakan tes COVID-19 terhadap siswa. Pasalnya, tidak dipungkiri ada siswa dengan berasal dari daerah zona abang COVID-19.

“Banyak santri yang berasal dari lintas tanah air dan bahkan lintas negara, ” ujarnya.

Setelah tersebut, tahap kedua ialah pihak pemangku sekolah atau pesantren harus mengambil tersedianya fasilitas cuci tangan sempurna dengan sabun dan hand sanitizer. Selain itu penggunaan masker serupa patut diperhatikan selama proses melancarkan mengajar.

Tahap lainnya ialah membenarkan physical distancing dapat diterapkan dalam ruang kelas ataupun asrama untuk para santri. Tidak lupa penyemprotan disinfektan pun harus dilakukan dalam setiap area lingkungan sekolah.

Maruf Amin menerangkan, tersedia tantangan tersendiri bagi pesantren & sekolah keagamaan berbasis asrama disaat adanya pandemi COVID-19. Sebab kebanyakan sarana dan prasana asrama pondok masih minim apalagi hingga saat ini tidak memiliki standar patokan perbandingan jumlah santri dengan besar kamar tidur.

“Dengan kondisi tersebut betul sulit menerapkan physical distancing pertama di pondok pesantren yang memiliki ratusan bahkan ribuan santri, ” tuturnya.