Sejarah Mbah Suwaji, 30 Tahun Berniaga Bakso dengan Mata Katarak pada Gang XX

0
317

SuaraJatim. id – Sekitar pukul 13. 00 WIB, cuaca kawasan Dukuh Kupang memang cukup terik. Namun, suara instrumen yang berlalu lalang tak sedikitpun menggangu tidurnya.

Adam berusia 84 tahun itu tampak meringkuk di atas kursi plastiknya. Ia tampak tertidur beralaskan kardus dengan suasana hembusan angin yang sejuk di bawah pohon. Tidurnya pun terlihat cukup pulas.

Suwaji, seorang pedagang bakso yang sehari-harinya berdiam diri di depan sebuah gang dengan tertutup pagarnya dimanfaatkan untuk berjualan.

Posisi yang pas strategis di samping jalan awam tersebut mudah untuk di menentang pembeli yang sekadar ingin menikmati bakso.

Meski telah renta, Suwaji tetap bersemangat menampilkan baksonya. Kulit tangannya yang telah keriput tetap kokoh menggenggam mangkok dan sendok.

Tetapi beberapa kali terlihat meleset ketika menuangkan kuah. Maklum, penglihatan Suwaji sudah jauh menurun.

“Setunggal nopo kale? (Satu atau dua porsi? ), ” tuturnya saat melihat SuaraJatim. id mengarah gerobak baksonya. Ia langsung berhijrah dari tidur dan memperbaiki masker biru di wajahnya.

Usai menyajikan baksonya, Suwaji mulai bercerita bahwa sudah 30 tahun lamanya dia menekuni tempat penjualan bakso.

Setelah menikah dengan sang istri ia mempertaruhkan nasib di Kota Perwira. Berbekal resep seadanya, Suwaji & istri membuat baksonya sendiri dengan tangannya.

“Nikah dapat dua minggu tepat ke Surabaya, di sini dulu ngontrak sama Mbah Putri (istrinya), seharga Rp 1500 selama perut tahun. Dulu awalnya ya jualan macam-macam, es cao pernah, terus kemudian memutuskan jualan bakso sekadar, ” ujarnya.

  • «
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • »