Trauma Pendeta Yeremia Terbunuh, Warga Permata Jaya Terpaksa Tidur di Hutan

0
88

Suara. com awut-awutan Banyaknya jumlah rombongan TNI yang ditempatkan di Kawasan Hitadipa, Intan Jaya, Papua serupa dianggap mempengaruhi tingginya kekerasan yang terjadi di daerah tersebut. Bahkan, warga setempat pun disebut memilah angkat kaki dari daerahnya serta menetap di hutan.

Aktivitas kontak senjata antara TNI dengan separatis bersenjata tidak selamat melibatkan masyarakat sipil sebagai objek. Catatan kasus terakhir, Pendeta Yeremia Zanambani juga ditembak oleh TNI pada 19 September 2020.

Pendiri Kantor Dasar dan HAM Lokataru Foundation, Haris Azhar mengatakan sesaat setelah Zahid Yeremia dimakamkan pada 20 September 2020, masyarakat setempat melarikan muncul ke hutan maupun daerah lain.

“Sekitar pukul 11 siang pada 20 September 2020, masyarakat berbondong-bondong keluar ke hutan-hutan, ke sejumlah daerah lain daerah kabupaten tetangga, ” kata Haris dalam paparannya secara virtual, Kamis (29/10/2020).

Mengucapkan Juga: Haris Azhar: TNI Duduki SD dan SMP di Hitadipa, Guru dan Pelajar Ketakutan

Haris mengungkap hingga saat ini belum ada pendataan terhadap masyarakat yang mengungsi ke luar distrik. Dengan begitu mereka belum mendapatkan bantuan & jaminan ekonomi, keamanan dan keyakinan guna bisa kembali ke kampung-kampung mereka.

Keterangan tersebut diperoleh dari hasil investigasi Awak Independen Kemanusiaan untuk Intan Jaya. Tim tersebut terdiri dari sejumlah tokoh agama, akademisi, dan pelopor kemanusiaan di Papua. Sebenarnya awak itu dibentuk untuk merespons status kekerasan yang terjadi pada Pendeta Yeremia Zanambani.

Berasaskan dasar itu, Tim Independen Kemanusiaan untuk Intan Jaya merangkum segala harapan yang disampaikan oleh asosiasi distrik Hitadipa maupun keluarga Pendeta Yeremia. Masyarakat Distrik Hitadipa berhadap mereka bisa kembali ke wilayah halamannya untuk melanjutkan hidupnya.

Pun dengan suku Pendeta Yeremia yang berharap mampu kembali untuk dapat melangsungkan ibadah duka. Selain itu, mereka selalu berharap agar TNI, organik maupun non organik tidak lagi beruang di Hitadipa.

“Selain karena mereka trauma, masyarakat percaya bahwa Hitadipa adalah tanah bersih misa Gereja yang tidak dapat untuk praktik kekerasan, ” ungkapnya.

Baca Juga: dua Warga Papua Hilang usai Dicokok TNI Lewat Dalih Operasi Menahan Corona

“Bahwa bagian keluarga korban, juga menyampaikan kalau mereka menolak dilakukan otopsi sekadar dengan dua alasan, bahwa bahan dan kesaksian sudah banyak dikasih untuk menghukum pelaku kasus tersebut, demikian juga bahwa membuka balik kuburan bertentangan dengan nilai adat di Papua, bisa berdampak tidak baik bagi keluarga. ”